PERPUSTAKAAN ADALAH RUMAH, BUKU ADALAH TEMAN
Sudah sekitar 1 tahun kami menambah kebiasaan baru bagi keluarga kami, yakni berkunjung ke perpustakaan seminggu sekali. Hal ini kami lakukan setelah anak pertama kami mulai memiliki kebutuhan akan buku yang tinggi. Sehingga kami mulai kewalahan memenuhi kebutuhannya.
Sejak
pandemi ini, jumlah pengunjung di perpustakaan sangat dibatasi. Hanya sekitar
50 orang saja yang boleh masuk ke Perpustakaan Kota Jogja. Terkadang kami harus
pulang dengan kecewa karena tidak kebagian kuota pengunjung. Seperti hari ini,
kami tidak kebagian kuota di saat kami sudah punya buku di wishlist kami yang tak sabar kami bawa pulang.
Namuin
demikian, qadarullah ketika hendak
pulang, Si Papa mengambil jalan yang memutar sehingga melewati perpustakaan
lagi. Alhamdulillah,ternyata 5 menit berselang dari kepergian kami, kuota
pengunjung perpustakaan kini tersedia untuk kami. MasyaAllah, kejutan rezeki
dari Allah. Kami sangat senang, sangat tidak menyangka.
Kami
pun masuk perpustakaan dengan sangat semangat. Tak sabar kami bertemu
teman-teman kami, buku. Seketika kami menyebar sesaat setelah memasuki pintu
utama perpustakaan. Papa dan adik ke bagian buku sejarah, kakak masuk ke ruang
loker untuk mencari loker kosong, mama mengisi buku tamu dan meminta kertas
rekomendasi buku (mama memang sudah menyiapkan banyak rekomendasi buku sesuai
kebutuhan keluarga kami).
Setelah
memilah-milah, akhirnya kami memiliki pilihan kami sendiri untuk buku yang akan
kami pinjam. Papa memilih buku sejarah tokoh Islam, mama memilih buku literasi
anak, kakak memilih buku berhitung, dan adik dipilihkan buku tentang tauhid
oleh mama. Awalnya mama dan papa merasa tidak sreg dengan buku pilihan Kak Best karena terkesan hanya mengulang
tema yang sama dengan buku-buku yang sudah Kak Best baca sebelumnya. Papa dan
mama pun memberi masukkan-masukkan yang diharap dapat Kak Best pertimbangkan
untuk mengganti buku. Namun demikian, Kak Best tetap tak bergeming, ia tetap
memilih buku berhitung. Papa dan mama pun menghargai pilihannya.
Ada
cerita menarik dari buku anak yang kami pinjam hari ini. Buku berhitung yang
awalnya papa mama pikir akan membosankan ketika dibacakan untuk Kak Best dan
Dek Badi, ternyata malah menstimulasi diskusi mendalam. Buku itu memang
sederhana saja, ada gambar binatang dengan jumlah tertentu dilengkapi dengan
angka yang mewakili jumlah hewan tersebut. Qadarullah,
hewan-hewan yang ditampilkan begitu unik, sehingga papa dan mama bisa sambil
bercerita tentang hewan-hewan tersebut lebih mendalam. Mulai dari bercerita
tentang habitatnya, jenis makanannya, deskripsi fisiknya, hingga keunikannya
yang ternyata merupakan cara Allah melindungi hewan tersebut (membuat dia dapat
beradaptasi dengan keadaan tempat ia hidup). Buku kedua tidak kalah menarik.
Membahas tauhid untuk anak, buku tersebut berjudul “Faiz Bertanya?”.
Sesuai dengan judulnya, buku ini berisi tentang dialog orangtua dan anak yang
bertanya seputar tema ketauhidan. Mulai dari tentang siapa Allah, dimana Allah
berada, apa itu ibadah, apa saja yang termasuk ibadah, apa itu surga, dan
sebagainya. Bahasa yang ringan membuat Kak Best merasa enjoy membacanya walau banyak pengenalan kosakata-kosakata baru
untuknya. Selain itu, ilustrasi buku juga sangat menarik, dapat menstimulasi
diskusi dengan anak. MasyaAllah, tabarakallah. Kak Best pun bertutur
pasca selesai dibacakan kedua buku yang ia pinjam hari ini, “Buku-buku di
perpus sangat menyenangkan ya, Ma! MasyaAllah”. Mama pun tersenyum senang
mendengarnya sambil memeluk Kak Best dan mendoakannya.
Alhamdulillah,
rezeki dari Allah. Kami memiliki rumah baru di hati kami, perpustakaan.
Buku-buku adalah teman kami bertumbuh. Tak masalah jika ia hanya pinjaman. Buat
kami, teman sejati buku ialah bukan mereka yang memilikinya, akan tetapi mereka
yang berhasil mengambil manfaat darinya, insyaAllah.
Comments
Post a Comment