REVIEW BUKU DALAM DEKAPAN MUKJIZAT QUR'AN
Judul Buku: Dalam Dekapan Mukjizat Qur'an
Penulis: Lana Salikah Azhariyyah, Salmiah Rambe, dkk
Penerbit: Syaamil Books
Jenis Buku: Kumpulan Cerpen Non-fiksi
Tebal Buku: 254 halaman
"Hidayah ialah undangan Allah Swt. kepada kita untuk berproses terhadap sesuatu. Dalam buku ini, hidayah yang dimaksud ialah berproses bersama Qur'an (Hidayatul Qur'an). Yakni, rangkaian undangan yang selalu Allah Swt.tambah dari waktu ke waktu (untuk mendekat pada Qur'an). Setiap satu undangan yang saya respons, Allah Swt.tambah lagi dengan undangan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Terkadang saya tidak memberikan respons pada undangan yang diberikan, namun Allah Swt.terus melimpahi dengan undangan-undangan dan kasih sayangNya", ungkap Lana Salikah dalam pengantar buku ini.
Agaknya betul penggambaran perwakilan Penulis tentang buku ini mengenai definisi hidayah sebagai rangkaian proses terhadap undangan Allah Swt., bukan hasil yang seketika menjadikan seseorang menjadi baik bak membalikkan telapak tangan. Sejalan dengan itu, buku ini berisi tentang untaian proses kisah nyata para ibu dalam menghadirkan keajaiban Qur'an dalam rumah dan aktivitasnya. Tidak selalu mulus, tetapi cukup berhasil memberikan motivasi bagi pembaca untuk berproses dalam suatu kebaikan, apapun itu (bukan hanya soal mempelajari dan menjadi penghafal Qur'an seperti di buku ini). Berproses menjadi ibu, menjadi pendidik keluarga, menjadi istri, menjadi pebisnis, menjadi aktivis sosial, apapun itu selama itu mengarah kepada kebaikan, jalani saja prosesnya. 😁
Itulah pesan kuat yang tertangkap saat membaca buku yang terdiri dari 15 kisah para ibu berproses dengan Qur'an ini. Bukan, mereka bukan melulu para Hafizhah (penghafal Qur'an) lulusan pesantren. Mereka pun bukan pula penghafal Qur'an sedari kecil dengan kondisi lingkungan yang begitu kondusif. Mereka dekat dengan kita, ada di sekitar kita, secara umum berlatar belakang hampir sama seperti kita, yakni seorang ibu lulusan sekolah umum yang tak jarang cenderung terlambat mengenal agama dan kitab sucinya.
Sebagian berprofesi sebagai pengajar Qur'an, sebagian sebagai profesional di ranah publik (menjadi dokter, guru, penulis, hingga legislator), dan sebagian lagi merupakan ibu rumah tangga 'tulen' (bekerja di ranah domestik). Yang jelas, kesamaan mereka ialah sama-sama berproses bersama Qur'an dan juga seorang ibu. Jika sebagian orang berpikir bahwa menjadi seorang ibu berarti berhenti (baca: berkorban) dengan impian-impian pribadi untuk impian suami dan anak-anak, hal ini tidak terjadi bagi para ibu hafizhah di buku ini. Terbukti, menjadi ibu tidak menghalangi mereka untuk mampu menyelesaikan hafalan komplet 30 Juz sebagai salah satu realisasi mimpi mereka. Rutinitas sehari-sehari di ruang domestik maupun publik tidak menghalangi kegigihan mereka untuk bercengkrama dengan Qur'an. Mulai dari membaca serta menghafal di waktu khusus sepertiga malam terakhir, muraja'ah (mengulang) hafalan sembari menyusui dan bermain bersama anak, hingga mendengarkan murrotal di sela-sela waktu tunggu di rumah maupun tempat berkarya di publik. Efeknya? Tidak hanya bagi dirinya sendiri yang selalu mendapat energi yang tak ada habisnya dengan Qur'an, tetapi orang di sekitar mereka (suami dan anak-anak mereka terutama) juga merasakan dampaknya. Keluarga menjadi semakin hangat, hubungan dengan suami makin harmonis, anak-anak terlihat makin sholih dan takzim pada ibundanya, hingga tak jarang juga memberikan inspirasi bagi anggota keluarga lain untuk juga berproses dengan Qur'an. Memang betul, seolah kebaikan tak henti-hentinya datang pada keluarga mereka hingga lingkungan sekitar (baca: barokah).
Penulisan kisah dengan bahasa yang ringan khas cerita pendek, tidak menjadikan buku ini kering akan pemaknaan dan pesan yang mendalam. Sebaliknya, justru ibrah (pelajaran) darinya bisa dipetik oleh berbagai kalangan: orang biasa hingga 'maniak' buku-buku berat sekalipun. Kisah yang jujur dibumbui dengan berbagai naik turunnya proses menghafal Qur'an dari seorang ibu 'biasa' berhasil memberikan ruh kepada tulisan untuk menggugah siapa saja yang membacanya. Cerita yang mengalir secara natural berdasarkan pengalaman pribadi para Penulis pun kian menambah optimisme untuk juga berproses dalam kebaikan yang sama, bahkan lebih. Ya, imej penghafal Qur'an yang seolah tak terjamah oleh orang awam seolah runtuh seketika pasca membaca kisah demi kisah dalam buku ini. MasyaAllah. 🤩
Sebagai penutup, saya kutip kata-kata dari kitab penulis favorit saya yang juga ada di buku ini. " Hidup dalam naungan Qur'an ialah suatu nikmat. Nikmat yang tidak dimengerti kecuali oleh yang merasakannya. Nikmat yang mengangkat harkat usia manusia menjadikannya diberkahi, dan menyucikannya", untaian kalimat mukadimah tafsir Fi Zhilalil Qur'an karya Syekh Sayyid Quthb. Perhatikan bagian, nikmat yang tidak dimengerti kecuali oleh yang merasakannya. Anehnya, buku ini bagi saya, juga mampu membuat saya merasakan nikmat/enaknya menjadi penghafal Qur'an (baru sebagian kecil nikmatnya). Gimana ya yang benar-benar merasakan nikmatnya seperti mereka? MasyaAllah. Tidak, tidak jadi minder, tapi saya malah jadi optimis karena seolah kebaikan menjadi hafizhah itu sudah terpampang nyata di hadapan saya.
Comments
Post a Comment