Anakku 'Suka' (Sering) Rebutan
Anakku, Best (perempuan, 3 tahun) dan Badi (laki-laki, 1 tahun) relatif sering rebutan. Wajar, masih sama-sama di fase egosentris. Apalagi nih adiknya semacam follower sejati kakaknya, apa-apa yang kakak lakuin sering diikutin. Termasuk pagi ini soal mobil-mobilan. Si kakak udah naik duluan, eh si adik datang ingin naik juga dan merebut paksa. Si kakak tidak terima. Aku pun datang,
"Dedek juga mau naik ya? Gimana kalau kita bagi waktunya biar adil, 3 menit-3 menit gimana?", kataku menawarkan solusi pada mereka.
"Baiklah", kata si kakak langsung setuju.
Berbeda dengan si kakak, si adik tetap ingin merebut mainan yang masih dipakai kakak. Aku pun menahan si adik, kudekap dan kujelaskan padanya pelan-pelan. Awalnya dia meronta-ronta tidak terima, tetapi akhirnya mengerti juga. Ya, akhirnya dia mau menunggu.
Tetapi belum ada 3 menit berjalan, si kakak turun.
"Nih dik, adik aja yang naik", kata si kakak.
"Maacih", jawab si adik dengan manisnya, agak cadel khas anak baru belajar ngomong.
"Sama-sama", jawab si kakak sambil senyum.
Aku yang penasaran pun bertanya pada si kakak,
"Kenapa kakak kasih ke adik padahal kan belum 3 menit?"
"Kalau aku kayak gitu, aku ga zalim kan, ma?", kata si kakak balik tanya.
"MasyaAllah Nak, ya enggak lah, sayang. Zalim itu kalau kak Best mengganggu atau mengambil hak oranglain. Ini kakak malah ngasih haknya kakak. Udahlah ga zalim, ditambah lagi kakak seperti bersedekah memberi sesuatu yang jadi hak kakak pada oranglain. Ini kebaikan yang berlipat malah, insyaAllah Allah makin sayang sama kakak", jelasku panjang lebar.
"Kalau cuma ga zalim, Allah sayang ga?", tanyanya polos.
"Hehehe.. Ga zalim, memperlakukan sesuatu sesuai haknya kan sifat yang baik, Allah sayang lah. Suka bersedekah juga sifat yang baik, bikin Allah juga sayang. Kalau digabung, untuk kasus ini, lebih utama insyaAllah", jawabku lagi.
"Wow, berarti aku disayang banget sama Allah ya? Keren", seru Best senang.
"Hehehe.. Iya, tapi kalau lain kali kakak mau main sampai selesai juga ga apa-apa kok. Mungkin kakak butuh main juga", saranku yang berusaha tetap memahami kebutuhannya bermain.
"Ga apa-apa kok. Aku kan udah sering main, mungkin adek lebih butuh main", kata Best menenangkanku.
"MasyaAllah", jawabku kagum pada sikap Best.
Cuplikan adegan tadi seperti oase di tengah padang pasir rutinitas rebutan Badi dan Best. Jadi, jangan berpikir bahwa Best si 3 tahun ini sudah sangat dewasa atau luar biasa masyaAllah banget untuk berbagi. Adakalanya, bahkan seringnya muncul sisi-sisi seorang anak yang sedang berkembang sisi egonya pada si sulung. Wajar, dia butuh fase ini. Hargai, terima.
Selain itu, yang perlu belajar di sini bukan cuma Best yang sudah besar, tetapi Badi yang lebih kecil pun perlu belajar perkara hak-hak ini. Aku malah khawatir juga kalau Best baik terus, pengertian terus, jangan-jangan malah ada faktor lain yang menyebabkan dia bersikap seperti itu. Misalnya, takut mamanya marah karena adiknya sering menangis saat main bersama dia. hehe.
Jujur, kadang aku juga 'empet' melihat pertengkaran mereka yang diwarnai tangis, saling dorong, dan jeritan. Namun ku tahan diri untuk marah pada salah satu pihak yang saat itu tidak memfungsikan perasaannya untuk memahami kondisi saudaranya yang sudah meronta-ronta meminta. Ku berusaha mendudukkan sesuatu sesuai haknya dahulu, perkara kebaikan yang berlipat karena memahami situasi oranglain dan akhirnya menyedekahkan haknya itu tidak lebih urgen/wajib dibanding dengan tidak zalim pada hak oranglain. Jadi, tidak apa-apa ya kalau sering ada yang nangis karena tidak didahulukan atau tidak dibagi kue? Kita fokuskan ikhtiar pada perkara yang wajib dahulu, tidak zalim dahulu, menempatkan sesuatu sesuai haknya dahulu. Setelah paham perkara hak-hak ini, baru perlahan-lahan kita ajarkan anak kepada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah, yakni berbagi atau menyedekahkan hak kita untuk oranglain. Jangan belum apa-apa, kita sudah paksa mereka untuk begitu sociable berbagi. Kalem, pelan-pelan, step by step. Jangan zalim pada anak. Astaghfirullah.
Comments
Post a Comment