ANTARA SI MALIN DAN SI TANGGANG
Siapa yang tidak tahu cerita tentang Malin Kundang? Cerita ini sangat populer setidaknya bagi anak-anak generasi 90an seperti saya. Cerita ini secara umum berkisah tentang kedurhakaan anak pada orangtua, sehingga turunlah azab dari Tuhan. Alkisah ada seorang anak yang ingin pergi berlayar untuk memperjuangkan nasib agar menjadi lebih sukses dibanding hanya berdiam diri di kampung. Dengan berat hati, ibu dari anak bernama Malin itu mengijinkan putranya pergi. Singkat cerita, Malin berhasil mencapai kesuksesan setelah berlayar. Dia menjelma menjadi saudagar yang kaya raya dan bahkan sudah menikah dengan seorang perempuan cantik. Suatu hari, tanpa disengaja, Malin bertemu dengan ibunya saat kapalnya sedang bersandar di dermaga. Sang ibu pun sangat terharu karena akhirnya dapat berjumpa dengan anaknya. Berbeda dengan sang ibu, Malin justru merasa sangat malu karena ibunya ialah perempuan miskin dari kampung, Malin malu pada istrinya. Dia pun berlagak seperti tidak mengenal ibunya. Di situ ibu Malin merasa sangat sedih atas perlakuan anaknya, ia pun murka dan berkata, “Dasar anak durhaka! Mak kutuk kau jadi batu!”. Tuhan pun menunjukkan kuasaNya, Malin benar-benar berubah menjadi batu.
Setidaknya
begitulah versi cerita yang saya tahu sejak kecil tentang Malin Kundang. Hal ini
tidak berubah sampai saya menonton serial kartun Upin Ipin bersama anak-anak
saya. Ternyata Malaysia pun juga memiliki cerita yang mirip dengan cerita Si
Malin Kundang. Hanya saja dengan tokoh dengan nama berbeda, Si Tanggang.
Menarik memang, mungkin karena kita negara serumpun, khazanah yang berkaitan
dengan adat istiadat dan budaya ini mudah bercampur baur sehingga banyak
memiliki kemiripan.
Anyway, saya
tidak ingin berbicara lebih jauh tentang persamaan budaya dan adat istiadat
kita dengan negara serumpun, saya ingin membahas tentang Si Malin dan Si
Tanggang saja. Secara umum, cerita Si Tanggang dan Si Malin Kundang memiliki
inti cerita yang sama. Namun demikian, saya berhasil menemukan satu hal yang
berbeda yang menurut saya menarik untuk dicermati. Hal itu terdapat pada
kata-kata ibu Si Tanggang dalam menanggapi sikap durhaka anaknya. Jika ibu Si
Malin Kundang berkata-kata dengan pilihan kata yang penuh angkara murka, bahkan
secara langsung mengutuk Malin menjadi batu, ibu Si Tanggang tidak berkat
demikian walaupun akhir ceritanya Si Tanggang juga berubah menjadi batu. Ibu Si
Tanggang berkata, “Oh Tuhan, tunjukkanlah pada Si Tanggang bahwa akulah mak
kandungnya”. See? Tidak ada murka
dari kata-kata ibu Si Tanggang. Dia hanya terkesan sangat sedih dan bingung
lalu meminta Tuhan untuk turun tangan untuk membuktikan bahwa ia adalah ibu
kandung Si Tanggang. Alhasil, Tuhan pun turun tangan dengan caraNya, Tanggang
berubah menjadi batu.
Bagi saya
terdapat pelajaran berharga dari dua kisah beda versi ini. Kata-kata, “Dasar
anak durhaka! Mak kutuk kau jadi batu!” dan “Oh Tuhan, tunjukkanlah pada Si
Tanggang bahwa akulah mak kandungnya”, walaupun membuat akhir cerita yang
relatif sama, tetapi mengandung makna tersirat yang berbeda. Saya lebih sepakat
dengan versi emak SI Tanggang karena bagi saya itu sangat mencerminkan sifat
orangtua. Walaupun memang perlu diakui bahwa orangtua juga manusia biasa yang dapat
memiliki sifat amarah dan bisa murka, tetapi kasih sayang orangtua jauhlah
lebih dekat dibanding murkanya. Sehingga penting buat orangtua memilih
kata-kata yang bijak saat mengungkapkan isi hatinya pada anak. Jangan mudah
melaknat atau memberi label anak di saat marah seperti yang dicontohkan mak Si
Tanggang. Karena sungguh, kasih dan sayang kita sebagai orangtua jauh lebih
besar kepada anak dibanding kemarahan kita padanya. Inilah juga mengapa kita
memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah, karena Allah telah menganugrahkan
salah satu sifat yang juga dimiliki Rabb kita pada diri orangtua, yakni kasih
sayang orangtua lebih dekat dari murkanya. Jika tak percaya, coba buktikan,
walaupun Anda memiliki kesalahan yang besar sekalipun yang bahkan seluruh orang
di dunia membenci Anda karena hal itu, bukankah orangtua Anda yang akan menjadi
satu-satunya orang yang masih mau menerima dan memaafkan Anda? Bukankah
merekalah yang akan selalu punya space
buat Anda di hati mereka? Allah, Tuhan kita juga demikian bukan? Allah bisa
murka, tapi kasih sayangNya jauh lebih besar untuk Anda. Ayo sambut panggilan
kasih sayang Allah, ayo berbuat baik pada orangtua! Semoga keberkahan hidup
menyertai kita yang bertaubat dan memuliakan orangtua kita. Aamiin.
Comments
Post a Comment