PERJALANAN DENGAN TELEVISI
Sejak pindah ke rumah baru sejak sekitar satu tahun yang lalu, ada kebiasaan baru di rumah kami. Kebiasaan ini memang betul-betul baru karena sebelumnya kami bahkan tidak punya media untuk melakukannya. Ya, menonton televisi. Bermula dari TV LED hadiah, kami mulai terjebak dengan kebiasaan yang membingungkan ini, antara bermanfaat atau tidak.
Beberapa kali mama
mulai kesal dengan adanya TV di rumah. Ruang tengah yang biasanya berfungsi sebagai
ruang ngobrol, diskusi, dan bercengkrama bersama keluarga, kini sering berubah
fungsi menjadi ruang nonton bareng. Terlebih saat kami memasang layanan
penyedia internet rumahan yang berbonus layanan TV kabel, TV pun makin sering
difungsikan. Mama yang awalnya menentang keras penggunaan TV, kini mulai luluh
karena bisa menonton channel masak
mancanegara, channel berita
mancanegara seperti ABC atau BBC, hingga channel
penelitian atau reality show luar
negeri yang menurut mama berbobot. Selain itu, mama juga memberikan akses
menonton channel anak mancanegara
untuk anak-anak mama. Mama mengamati bahwa acara pada channel anak mancanegara berbeda dengan acara anak-anak televisi lokal.
Terdapat konsultan pendidikan yang dilibatkan untuk pembuatan konten. Sehingga
konten-konten yang disajikan sangat mendidik, menstimulasi kreatifitas,
humanis, bahkan dapat membantu anak-anak berpikir kritis serta divergen. Mama
terpesona, ini kan sesuai dengan concern mama yang memiliki background kuliah di bidang ilmu
pendidikan!
Hari-hari pun berlalu
dengan kebiasaan baru ini sampai tiba waktunya jatah promo TV kabel pun habis Kami
tidak bisa mengakses TV kabel lagi di rumah. Kami sedih, Best kehilangan Si Bluey
yang menjadi tokoh referensi bermain dengan adik dan Fancy Nancy, si gadis
kecil yang memiliki sifat mirip Best yang fancy
tetapi sekaligus kreatif dan imajinatif. Sementara Papa kehilangan berbagai
film hits dari HBO dan FOX serta
acara live sepakbola yang tidak ditayangkan
di Indonesia. Mama kehilangan Masterchef Junior yang melalui acara itu mama belajar
banyak hal tentang psikologi, tumbuh kembang anak, kultur negara-negara yang
berbeda dalam mendidik anak, bahkan belajar Bahasa Inggris langsung dari native speakernya.
Alhasil, kami pun menonton
channel lokal saja dan mama kembali strict terhadap kebiasaan menonton
TV. Kata mama, tayangan TV lokal belum
banyak yang mendidik, jadi harus benar-benar dipilih. Mama sendiri memilih tidak
menonton TV, Papa hanya menonton berita dan siaran bola, sedangkan Best hanya
menonton Riko, Upin Ipin, Omar Hana, serta Boboiboy. Hehe.. Banyak juga ya ternyata referensi tontonannya Best. Nah!
Hari-hari berjalan,
mama makin gerah dengan TV. Bukan hanya karena sedikit acara yang mendidik,
ternyata iklan-iklan di siaran TV lokal cukup mengganggu (ini tidak ada di TV
kabel). Banyak nyanyi-nyanyi lah, joget-joget, mengumbar aurat, pilihan kata
tidak sopan, mempromokan hidup konsumtif dan materialis, kira-kira begitulah
pendapat mama soal iklan-iklan tersebut. Mama jengkel, berkali-kali mama minta
Papa menjual TV tetapi Papa belum mau. Mungkin masih sayang.
Mama belum menyerah,
sering mama meminta anak-anak mematikan TV walau acara favorit mereka masih
tayang. Pelan-pelan mama beritahu alasannya tentang hal-hal mudharat dari
menonton TV. Mama juga mengkampanyekan kegiatan-kegiatan lain untuk mengisi
waktu agar lebih berkualitas. Anak-anak mulai menikmati quality time ala mama, tetapi tidak dengan Papa. Menurut Papa, Papa
masih memiliki kebutuhan akan TV.
Sampai pagi ini (28/01/2021),
hidayah itu menghampiri Papa. Setelah subuh, Mama mengajak berdiskusi tentang
arah pendidikan anak ditambah dengan mengkaji beberapa referensi oleh
ahli-ahli, ustadz-ustadz, dan kajian-kajian yang mama dengar. Akhirnya Papa
sepakat untuk tidak menggunakan TV lagi. Alhamdulillah. Namun demikian, Papa
masih bingung apakah harus menjual TV atau disimpan saja. Tak apa, yang penting
akhirnya para orangtua sudah sepakat perkara TV yang membawa mudhorot lebih
banyak dibanding manfaatnya.
Ternyata Allah sangat menyayangi kami. Bertepatan dengan hidayah yang menghampiri Papa pagi ini, beberapa jam kemudian TV LED kami rusak. Layarnya tiba-tiba menjadi blank, putih semua. Kami tidak tahu apa penyebabnya karena kejadian ini tiba-tiba saja terjadi. Papa pun sontak berkata, "Alhamdulillah, TVnya rusak. Kita sudah ga bingung lagi harus diapakan itu TV!". Mama pun bengong, antara bersyukur dan terkejut. "Kok bisa ya pas banget sama diskusi kita pagi ini, Pa?", kata mama dengan wajah bingung. Subhanallah, Maha Suci Allah yang penjagaanNya begitu detail pada hamba-hambaNya. Mungkin saja Allah memang sungguh tak ingin kami melihat ke belakang lagi, setelah mendapat hidayah untuk hidup jauh lebih bermanfaat ke depan tanpa TV. Alhamdulillah! Terimakasih Allah.
Comments
Post a Comment