TEKNIK CONTOH-BUKAN CONTOH PADA BUKU ANAK DAN MANFAATNYA
Salah
satu teknik yang bagus ketika kita ingin mengajarkan anak tentang suatu konsep
ialah menggunakan teknik contoh-bukan contoh. Misalnya, jika kita ingin
mengajarkan tentang persegi panjang untuk anak, kita bisa menggunakan teknik
ini selain memberi contoh macam-macam persegi panjang (yang bervariasi dari segi
contoh benda, ukuran, warna, hingga orientasi), kita juga perlu memberikan bukan
contoh dari persegi panjang. Bukan contoh dari persegi panjang bisa berupa segitiga,
lingkaran, hingga persegi atau layang-layang yang memilik sisi-sisi yang mirip
dengan persegi panjang. Dengan menampilkan contoh-bukan contoh, anak diharapkan
dapat memahami konsep dengan lebih utuh karena dapat dibedakan dengan konsep
lainnya, bahkan yang terlihat mirip.
Alhamdulillah, beberapa tahun lalu saya menemukan sebuah contoh
buku anak yang sangat menarik yang menggunakan teknik contoh-bukan contoh untuk
mengantarkan sebuah konsep. Bukan konsep matematika, melainkan konsep syukur,
sebuah sifat yang sangat penting bagi anak untuk mampu memaknai dan menghargai
kehidupannya. Ternyata, penulis buku tersebut berhasil menggunakan konsep
contoh-bukan contoh dari dunia pendidikan ini dengan sangat apik, sehingga
akhirnya saya membeli salah satu buku berkonsep seperti ini untuk menjadi
referensi bacaaan di rumah.
Buku yang saya maksud ialah buku terbitan Gema Insani
yang berjudul “Alhamdulillah Aku Punya Orangtua”. Buku yang dibandrol dengan
harga yang relatif terjangkau sekitar 25.000 rupiah saja ini, cukup baik dalam
menyajikan konsep kesyukuran terhadap karunia Allah, dalam hal ini memiliki
orangtua. Teknik contoh-bukan contoh dipakai untuk menjelaskan konsep
kesyukuran tersebut dengan melakukan komparasi antara keadaan anak-anak yang
masih memiliki orangtua dengan anak-anak yang sudah tidak memiliki orangtua,
yaitu anak yatim piatu di panti asuhan.
Pada setengah bagian awal buku, dibahas tentang bagaimana
seorang tokoh aku memaknai hari-hari bersama orangtuanya. Diberikan
contoh peran orangtua dalam membersamai si tokoh aku, mulai dari
melakukan berbagai hal menarik bersama, mengajari dia belajar, memberikan
semangat saat ia mengalami kesulitan/kegagalan dalam hidup, dan mendidiknya.
Perasaan positif akibat rasa syukur karena masih memiliki orangtua dibangun
baik oleh penulis pada setengah bagian awal ini dengan contoh-contoh adegan
yang ditampilkan.
Di sisi lain, pada setengah bagian akhir buku, penulis
menyajikan segmen bukan contoh
dengan menampilkan kondisi keseharian anak-anak di panti asuhan yang sudah
tidak memiliki orangtua. Perbedaan keseharian yang anak panti asuhan alami
tanpa orangtua tergambar dengan baik dan sesuai porsinya, tidak berlebihan
sehingga seolah-olah hidup anak panti asuhan terlihat sangat menderita dan
tidak ada sisi baiknya. Hal ini bertujuan untuk menstimulasi anak-anak berempati
dan membayangkan saat dirinya ada di posisi anak-anak panti asuhan. Sehingga
mereka bisa mengetahui dan merasakan hal yang berbeda untuk kemudian dapat
menyibak konsep kesyukuran dengan lebih utuh.
Namun demikian, saya cukup salut dengan buku ini yang
menampilkan kondisi anak panti asuhan yang juga bisa berbahagia dan bersyukur dengan
cara mereka sendiri, walaupun sudah tidak memiliki orangtua. Hanya saja, memang
perlu diakui bahwa mereka memang kerap merindukan kehadiran dan kehangatan dari
sosok orangtua. Hal ini menambah cakrawala berpikir anak tentang syukur, bahwa
apapun kondisi kita, kita bisa menerimanya dan mensyukurinya jika kita mau
berusaha. Sekalipun kondisi yang kita alami bukanlah kondisi yang menurut kita
ideal, tapi kita bisa tetap berbahagia. MasyaAllah, ini salah satu buku bagus
menurut saya. Terjangkau, unik cara penyampaiannya, kaya makna, dan sesuai
dengan perkembangan anak balita. Barakallah, semoga semakin banyak buku-buku
berkualitas semacam ini ya, ayah bunda. J
Comments
Post a Comment